Menkop Hadiri Peluncuran Buku Sahala Panggabean

Jakarta – Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menghadiri dan melaunching buku Sahala Panggabean: Koperasi Indonesia Penyelamat Ekonomi Bangsa, di Jakarta, Kamis malam (6/9). Buku tersebut bercerita tentang perjalanan panjang perkoperasian di Indonesia dan perjuangan Sahala selama 20 tahun dalam membangun Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari.

Buku yang ditulis wartawan senior Irsyad Muchtar itu bercerita, sebagai pendiri Nasari, Sahala pada 31 Agustus 1998 dianggap berani karena mendirikan koperasi di Semarang, Jawa Tengah, saat Indonesia diterjang badai krisis ekonomi. Namun, keputusan Sahala mendirikan Nasari terbukti tepat. Pasalnya, kapal Nasari yang dikomandoinya kini telah menjelma menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia dengan aset yang hampir mencapai Rp1 triliun dan 40 kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. “Kita memang fokus membangun koperasi berkualitas dengan terus meningkatkan kinerja usaha termasuk jumlah anggota koperasi yang saat ini sudah sebanyak 23 ribu orang”, tegas Sahala, dalam sambutannya.

Pada acara peluncuran buku sekaligus syukuran 20 tahun KSP Nasari dan grup, serta Grand Launching KSP Nasari Syariah itu, Sahala mengakui bahwa Nasari mendapat penilaian sehat dari Kemenkop dan UKM pada 2017. “Kita akan terus tingkatkan kesehatan KSP Nasari, dimana NPL Nasari ada di bawah 2% saja”, jelas Sahala.

Dalam hitungan Sahala, rencana kerja Nasari ke depan, bila rata-rata anggota pinjam sebesar Rp2,5 juta saja, maka Nasari membutuhkan dana segar sebesar Rp1,3 triliun. Bila rata-rata meminjam Rp5 juta, maka diperlukan dana segar sebesar Rp3 triliun. “Itu rencana kerja Nasari dalam tiga tahun ke depan”, tandas Sahala.

Sahala dalam buku tersebut juga berkisah lika-liku mendirikan Asosiasi Koperasi Simpan Pinjam Indonesia (Askopindo), termasuk di dalamnya koperasi kredit atau Kopdit sebagai anggota. “Askopindo tugasnya membentuk lembaga sertifikasi koperasi dan akan membentuk lembaga penjaminan simpanan koperasi”, kata Sahala lagi.

Keputusan Sahala memilih ceruk pasar yang khas (segmented) dengan menggarap pensiunan PNS, TNI, Polri, sepertinya juga menjadi salah satu kunci sukses Nasari dalam memenangkan ketatnya persaingan di kancah pembiayaan lembaga keuangan nasional. “Pasar pensiunan berikut keluarga belum banyak digarap orang. Intinya, kami membantu permodalan bagi kalangan pensiunan dan juga keluarganya yang ingin memiliki usaha”, ujar Sahala.

Sementara itu, putra Sahala sekaligus Ketua Pengurus KSP Nasari Chandra Saritua Panggabean menyebutkan bahwa sebagai generasi penerus dirinya akan membawa Nasari ke arah koperasi yang lebih moderen. “Koperasi Nasari yang kini dikelola generasi milenial sudah berbasis digital. Karena, dengan digitalisasi keuangan maka Nasari akan lebih berdaya saing secara moderen dan inovatif”, imbuh Chandra.

Bahkan, tak segan-segan Chandra menyebut Nasari akan dibawa menuju koperasi berkelas global yang moderen, profesional, dan efisien. “Dengan 80% SDM Nasari merupakan anak-anak muda, saya optimis Nasari mampu menjelma menjadi kelas dunia seperti Rabobank”, kata Chandra.

Sedangkan Sekjen MUI KH Anwar Abbas yang juga hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi atas berhasilnya program kaderisasi di tubuh Nasari. “Pak Sahala pasti bangga KSP Nasari yang sudah dibangunnya tetap berjalan baik di tangan putranya. Karena visi Nasari tetap dijalankan dengan benar dan sungguh-sungguh”, kata KH Anwar Abbas.

Lebih jauh, KH Anwar Abbas menegaskan bahwa buku ini seharusnya menjadi bacaan wajib mahasiswa seluruh Indonesia. “Kalau kita ingin memiliki generasi muda bangsa yang berkarakter kuat, harus ditanamkan yang namanya ekonomi Pancasila. Dalam implementasinya, ekonomi Pancasila terkandung utuh dalam sosok wadah koperasi”, pungkas KH Anwar Abbas.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *